Hukum Tentang Menikah Dalam Keadaan Hamil

 KAJIAN

Hukum Tentang Menikah Dalam Keadaan Hamil

Hukum Tentang Menikah Dalam Keadaan Hamil

Hukum Tentang Menikah Dalam Keadaan Hamil

Perbanyaklah ilmu karena akan membawamu kepada keselamatan dan menuju ke jaan yang lurus, Masalah pernikahan di negara kita dan kebanyakan, memiliki banyak kasus yang berbeda-beda, Sungguh pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan suci, oleh karena itu kita harus mempersiapkan dan menjaga tali suci pernikahan hingga kita dan pasangan masuk ke dalam liang kubur.

Bahasan tentang menikah dalam keadaan hamil adalah menikahi seorang perempuan yang sedang hamil dalam hal ini kita dapat membedakan menjadi dua yaitu perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil dan perempuan yang hamil di luar nikah, akibat melakukan perbuatan zina bersama pasangannya, biasa kita mengenalnya dengan ungkapan MBA merried by accident semoga kita di lindungi oleh Allah dari perbuatan seperti ini.

Tinjauan Hukum Menurut Alqur’an

Al – Qur’an Surat Ath-Thalaq Ayat 4

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Hukum Tentang Menikah Dalam Keadaan Hamil. Bila melihat dari ayat ini maka bisa kita lihat bahwa wanita yang sedang hamil dan sudah diceraikan oleh suaminya, maka hukumnya haram untuk di nikahi, sampai ia terlepas dari masa ‘iddahnya, masa ‘iddahnya adalah sampai wanita tersebut melahirkan bayi yang di kandungnya.

Berdasarkan Tafsir Jalalayn

(Dan perempuan-perempuan) dibaca wallaa’iy dan wallaa’i, dengan memakai hamzah dan ya atau tanpa memakai ya, demikian pula lafal yang sama sesudahnya (yang putus asa dari haid) lafal al-mahidh di sini bermakna haid (di antara perempuan-perempuan kalian jika kalian ragu-ragu) tentang masa idahnya (maka idah mereka adalah tiga bulan; dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak haid) karena mengingat mereka masih di bawah umur, maka idah mereka tiga bulan pula. Kedua kasus ini menyangkut wanita-wanita atau istri-istri yang tidak ditinggal mati oleh suaminya.

Adapun istri-istri yang ditinggal mati oleh suaminya, idah mereka sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya berikut ini, yaitu, “Hendaklah para istri itu menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari.” (Q.S. Al-Baqarah 234) (Dan perempuan-perempuan yang hamil masa idahnya) baik mereka itu karena ditalak atau karena ditinggal mati oleh suaminya, maka batas masa idah mereka ialah (sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya) baik di dunia maupun di akhirat.

Bagaimana dengan menikah dengan wanita dalam keadaan hamil karena melakukan perbuatan zina. Melihat dari berbagai sumber ulama di dunia, masih terdapat perbedaan pendapat yaitu pertama dilakukan adalah bertaubat dari perbuatan zina yang telah dilakukannya, kedua adalah telah menyelesaikan masa ‘iddahnya. “ Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya ”. (QS. Al-Baqarah : 235).

 

[CK/HR]

Related Posts

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.